Review Book Persuasion Jane Austen
Judul buku : Persuasion
Penulis: Jane Austen
Tebal buku: 271 halaman
Genre : Romance fiction
Sumber: Google Book
Bahasa ; Inggris
Kamu tahu, pas baca buku Persuasion karya Jane Austen ini, aku merasa agak gemas. Terutama dengan sosok Louisa yang terkesan impulsif.
Tapi, tokoh ini mengingatkan aku dengan wanita - wanita yang sibuk memperbaiki penampilan agar mendapatkan suami yang mapan. Eh, tapi, ini pun mungkin gak salah ya?
Bukankah jadi cantik dan bisa dapat suami tajir yang seorang CEO misalnya, bisa bikin seorang wanita bahagia. Ah, jadi ingat cerita CEO ala dracin yang trend di kalangan emak-emak. Eh, tapi, siswa cowok di sekolahku juga suka kok wkwk. So, jadi kaya dan bahagia ini bukan masalah gender.
Lha, di zaman yang sulit cari pekerjaan dan harga kebutuhan hidup yang nggak pasti, aku rasa, wajar sih kalau orang cari pelarian. Ya, aku sih, cukup berkhayal jadi Louisa yang cantik atau Anne yang pintar. Lalu, hidup nyaman menikmati fasilitas dari orang tua. Duh, kok aku kek mimpi di tengah malam ya? wkwkwk..
Oya, Louisa atau Miss Musgroves ini terlihat hanya mengandalkan wajahnya yang cantik. Ini terasa banget pas doi berinteraksi dengan orang lain. Apalagi saat ia ngobrol dengan pria yang ia incar.
"..If I loved a man as she loved the Admiral, nothing should ever separate us, and I would rather be overturned by him than driven safely by anybody else.." (hal 90)
Nah, dari kutipan ini aja, kita bisa tahu level bucin dari cewek zaman itu yang mungkin sama aja dengan zaman sekarang. Ya kan?
Yah, meskipun hal itu mungkin gak salah. Karena sejak dulu, manusia emang harus bisa bertahan hidup dengan cara yang telah diketahui dan dipelajari sepanjang hidupnya. Dan, di zaman itu wanita belum memiliki kesempatan untuk berkarir atau bekerja untuk menopang hidupnya sendiri.
Berbeda dengan wanita yang hidup di zaman modern, wanita di abad pertengahan nggak memiliki banyak pilihan dalam hidupnya. Termasuk dalam bergaul atau memilih suami. Suami yang bisa diandalkan untuk menjaga dan menghidupi diri dan keluarga dengan baik.
Eh, kriteria ini sepertinya harus dimiliki sebagai seorang suami. Ya kan?
Wah, ternyata baca buku Persuasion karya Jane Austen ini cukup banyak isunya ya? Ga cuma percintaan antara Captain Wentworth dan Anna yang rumit, tapi juga status sosial yang memengaruhi cara pacaran zaman itu.
Termasuk cara Mr. Elliot mengatasi krisis ekonomi keluarga yang bikin aku geleng-geleng kepala. Gimana gak? Mr. Elliot masih menahan gengsinya, hingga ia enggan untuk hidup frugal. Padahal hutang udah menumpuk.
Dan, seperti kaum bangsawan lainnya yang boros dan hidup dari warisan atau hasil sewa rumah atau tanah, mereka hidup mewah. Menghadiri pesta, pakai baju mewah dan perhiasan mahal, serta memiliki rumah besar dan tanah yang luas. Aset yang sama sekali gak produktif, hingga bangsawan pemilik aset pun harus bayar pajak.
Nggak heran kalau para bangsawan ini kaya tanah tapi miskin uang. Akibatnya sih jelas, rumah-rumah bangsawan itu akhirnya gak terurus, karena mereka harus merumahkan pegawai-pegawai yang seharusnya membantu mengurus rumah besar dan tanah-tanah itu.
So, baca buku Persuasion karya Jane Austen ini, nggak akan bosan. Kita bisa temukan isu sosial yang mungkin dimulai dari kisah cinta tokoh-tokoh dalam cerita ini. Seperti gimana mak comblang seperti Mrs. Croft yang sibuk memikirkan tentang hubungan Frederick dan Louisa. Padahal Louisa sudah menikah dengan pria lain.
Kamu juga bisa bandingin gimana cewek-cewek atau emak-emak di bukunya Jane Austen ini yang suka ngegosip, persis dengan emak zaman now. Bedanya sih, emak zaman now punya media sosial buat wadah ngegosip, hingga materi gosip dan waktunya pun jadi gak ada batasnya.
Aku bisa bayangin gimana kalau orang dulu punya fasilitas gosip seperti sekarang, pasti lebih seru ya?
Nah, mau tau ceritanya supaya bisa dapat materi berkhayal? Yuk baca bareng!
#TugasTantanganRCO
#ReadingChallengeOdop2026
#odop
#RCO2026
Comments
Post a Comment